Oct
29

Kok Saya Nggak Kaya-kaya?

Author // yudihastono
Posted in // Bagi Rasa

kok nggak kaya kayaWaktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?” Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.

Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa overloaded. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman di salah satu situs jejaring sosial telah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah retire young and rich, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?

Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.

Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui blogwalking di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. Globalrichlist, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Yup, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?

 

Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan…terus…terus dan terus…dan ting….Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu…Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.

Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, “De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.” Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.

Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:

1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.

3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?

Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah ‘tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.’ Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.

Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?” Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.
Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa overloaded. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman saya di sini (baca: facebook) yang sekarang sudah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah retire young and rich, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?
Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.
Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui blogwalking di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. <a href=”http://www.globalrichlist.com”>Globalrichlist.com</a>, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Yup, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?
Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan…terus…terus dan terus…dan ting….Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu…Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.
Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, “De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.” Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.
Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:
1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.
3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?
Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah ‘tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.’ Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?” Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.
Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa overloaded. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman saya di sini (baca: facebook) yang sekarang sudah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah retire young and rich, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?
Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.
Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui blogwalking di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. <a href=”http://www.globalrichlist.com”>Globalrichlist.com</a>, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Yup, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?
Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan…terus…terus dan terus…dan ting….Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu…Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.
Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, “De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.” Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.
Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:
1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.
3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?
Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah ‘tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.’ Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.

Tags // , , ,

Trackback from your site.

Leave a comment