<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yudihastono.com &#187; Bagi Rasa</title>
	<atom:link href="http://yudihastono.com/category/bagi-rasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yudihastono.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Mar 2010 10:19:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://yudihastono.com</link>
<url>http://yudihastono.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon3.ico</url>
<title>yudihastono.com</title>
</image>
		<item>
		<title>Kok Saya Nggak Kaya-kaya?</title>
		<link>http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/</link>
		<comments>http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 06:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudihastono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bagi Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[globalrichlist]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[ngga kaya-kaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudihastono.com/?p=1318</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, &#8220;Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?&#8221; Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, &#8220;Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?&#8221; Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.</p>
<p>Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa <em>overloaded</em>. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman di salah satu situs jejaring sosial telah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah <em>retire young and rich</em>, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?</p>
<p>Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.</p>
<p>Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui <em>blogwalking</em> di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. <a title="Globalrichlist" href="www.globalrichlist.com" target="_blank">Globalrichlist</a>, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. <em>Yup</em>, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?</p>
<p><img title="Globalrichlist" src="http://yudihastono.com/wp-content/uploads/2009/10/Globalrichlist.jpg" alt="Globalrichlist" /></p>
<p>Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan&#8230;terus&#8230;terus dan terus&#8230;dan ting&#8230;.Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu&#8230;Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.</p>
<p>Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, &#8220;De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.&#8221; Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.</p>
<p>Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:</p>
<p>1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”</p>
<p>2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.</p>
<p>3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?</p>
<p>Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah &#8216;tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.&#8217; Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, &#8220;Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?&#8221; Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa overloaded. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman saya di sini (baca: facebook) yang sekarang sudah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah retire young and rich, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui blogwalking di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. &lt;a href=&#8221;http://www.globalrichlist.com&#8221;&gt;Globalrichlist.com&lt;/a&gt;, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Yup, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan&#8230;terus&#8230;terus dan terus&#8230;dan ting&#8230;.Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu&#8230;Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, &#8220;De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.&#8221; Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah &#8216;tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.&#8217; Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.Waktu itu saya pernah menonton acara Mario Teguh di TV. Di tengah-tengah ceramah motivasinya, dia sedikit bercerita tentang masa lalunya sebelum dia menjadi motivator ternama. Dia bercerita, suatu malam sepulang dari kantor, dia bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri, &#8220;Sudah sebegini keras saya bekerja tapi kok ngga kaya-kaya juga?&#8221; Lalu dia menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya tidak akan berbagi lebih lanjut tentang jawaban itu. Satu hal yang membuat saya tergelitik saat itu; saya juga memiliki pertanyaan yang sama.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Saya masih merasa diri saya miskin. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai jam kehidupan saya berubah menjadi kurva tak beraturan. Miskin, meskipun saya sudah bekerja sampai terkadang merasa overloaded. Miskin, meskipun zona nyaman saya sudah banyak terampas. Saya merasa lebih miskin lagi ketika melihat teman-teman saya di sini (baca: facebook) yang sekarang sudah memiliki kehidupan yang luar biasa. Ada yang tinggal di Eropa atau US, ada yang sudah retire young and rich, ada yang bisa tamasya ke luar negeri bahkan keliling dunia. Semuanya serba membuat kecemburuan berdesir dalam hati saya. Kok saya ngga bisa seperti mereka?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Sudah jelas, saya terlalu berfokus pada apa yang yang orang lain miliki tapi tidak saya miliki. Cara pandang seperti ini jelas tidak sehat dan merusak jiwa. Cara ini salah, dan sering saya baca bahwa mestinya kita mensyukuri akan porsi berkat yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Saya bisa memahami konsep itu namun tidak untuk menghayatinya, apalagi mengamalkannya dengan benar. Faktanya terlalu jelas, saya lebih miskin dari mereka yang lebih kaya dari saya. Semua ini hanya saya endapkan, terkubur menjadi sebuah retorika.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Nyatanya Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menolong domba-dombanya. Melalui blogwalking di internet, Tuhan membawa saya ke sebuah blog milik Arie Saptaji, salah seorang penulis buku Renungan Harian. Dia merujuk ke suatu situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki cara pandang yang lurus dan bening tentang kekayaan. &lt;a href=&#8221;http://www.globalrichlist.com&#8221;&gt;Globalrichlist.com&lt;/a&gt;, sebuah situs yang dapat memperkirakan posisi kita dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Yup, tentu saja saya penasaran, sebenarnya saya ini ada di bagian mana dari spektrum itu. Seberapa miskin to saya ini?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Langsung saja saya kunjungi situs itu dan di sana saya diminta untuk memasukkan penghasilan saya dalam setahun. Setelah saya tekan enter, jarum penunjuk mulai bergerak ke kanan&#8230;terus&#8230;terus dan terus&#8230;dan ting&#8230;.Hah?? Masak iya? Rasanya hampir nggak percaya. Sebentar saya kucek mata saya dulu&#8230;Saya termasuk dalam **% orang terkaya di dunia? Sepertinya mustahil ya. Lha wong orang miskin begini kok masuk dalam **% orang terkaya di dunia. Saya berada di atas **% orang di dunia. Awalnya saya kira situs ini cuma main-main tapi setelah saya teliti lebih lanjut ternyata situs ini melakukan kalkulasi berdasarkan data dari World Bank Development Research Group. Keakuratannya cukup bisa diandalkan. Kalopun meleset, nggak akan parah-parah amat.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Jujur saja saya terheran-heran dan buru-buru menceritakan kabar suka cita itu ke istri saya, &#8220;De, ternyata kita termasuk **% orang terkaya di dunia lho.&#8221; Ternyata istri saya juga termangu-mangu nggak percaya. Saya kemudian membaca lagi lebih lanjut blog milik Arie Saptaji dan mendapatkan hal-hal berharga.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Menurut Arie, berdasarkan pengalaman dia, ada obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Resep ini diberi nama 3M supaya mudah diingat dan dijamin mujarab jika kita meminumnya setiap hari. Saya langsung kutipkan saja ya:</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">1. Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">2.Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">3.Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">Saya juga tercerahkan dengan hakikat kemiskinan yang baru. Miskin adalah &#8216;tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.&#8217; Artinya, kita mungkin saja miskin, tapi tidak pernah benar-benar miskin. Selama nafas masih ada, kita tidak mungkin tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Justru pada saat kita serakah dan anti-memberi alias pelit adalah saat-saat dimana kita memiskinkan diri kita sendiri. Kata-kata yang menghibur, nasihat yang menguatkan, kejujuran, tanggung jawab dan kepercayaan adalah segelintir contoh dari banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kalaulah kita tidak mampu melakukan itu semua, sebuah untaian senyum atau perhatian yang tulus juga bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Kaya hati dan kaya jiwa.</div>
<div class="sexy-bookmarks sexy-bookmarks-expand sexy-bookmarks-bg-sexy"><ul class="socials"><li class="sexy-facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;t=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a></li><li class="sexy-twitter"><a href="http://twitter.com/home?status=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F+-+http://bit.ly/3h4Wqa+(via+@yudihastono)" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a></li><li class="sexy-delicious"><a href="http://del.icio.us/post?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on del.icio.us">Share this on del.icio.us</a></li><li class="sexy-digg"><a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Digg this!">Digg this!</a></li><li class="sexy-technorati"><a href="http://technorati.com/faves?add=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a></li><li class="sexy-reddit"><a href="http://reddit.com/submit?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Reddit">Share this on Reddit</a></li><li class="sexy-stumbleupon"><a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon">Stumble upon something good? Share it on StumbleUpon</a></li><li class="sexy-friendfeed"><a href="http://www.friendfeed.com/share?title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;link=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on FriendFeed">Share this on FriendFeed</a></li><li class="sexy-yahoobuzz"><a href="http://buzz.yahoo.com/submit/?submitUrl=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;submitHeadline=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;submitSummary=Waktu%20itu%20saya%20pernah%20menonton%20acara%20Mario%20Teguh%20di%20TV.%20Di%20tengah-tengah%20ceramah%20motivasinya%2C%20dia%20sedikit%20bercerita%20tentang%20masa%20lalunya%20sebelum%20dia%20menjadi%20motivator%20ternama.%20Dia%20bercerita%2C%20suatu%20malam%20sepulang%20dari%20kantor%2C%20dia%20bercermin%20dan%20bertanya%20pada%20dirinya%20sendiri%2C%20%22Sudah%20sebegini%20keras%20saya&amp;submitCategory=science&amp;submitAssetType=text" rel="nofollow" class="external" title="Buzz up!">Buzz up!</a></li><li class="sexy-google"><a href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=add&amp;bkmk=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Add this to Google Bookmarks">Add this to Google Bookmarks</a></li><li class="sexy-myspace"><a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;t=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a></li><li class="sexy-mixx"><a href="http://www.mixx.com/submit?page_url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Mixx">Share this on Mixx</a></li><li class="sexy-newsvine"><a href="http://www.newsvine.com/_tools/seed&amp;save?u=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;h=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Seed this on Newsvine">Seed this on Newsvine</a></li><li class="sexy-designfloat"><a href="http://www.designfloat.com/submit.php?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Submit this to DesignFloat">Submit this to DesignFloat</a></li><li class="sexy-linkedin"><a href="http://www.linkedin.com/shareArticle?mini=true&amp;url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;summary=Waktu%20itu%20saya%20pernah%20menonton%20acara%20Mario%20Teguh%20di%20TV.%20Di%20tengah-tengah%20ceramah%20motivasinya%2C%20dia%20sedikit%20bercerita%20tentang%20masa%20lalunya%20sebelum%20dia%20menjadi%20motivator%20ternama.%20Dia%20bercerita%2C%20suatu%20malam%20sepulang%20dari%20kantor%2C%20dia%20bercermin%20dan%20bertanya%20pada%20dirinya%20sendiri%2C%20%22Sudah%20sebegini%20keras%20saya&amp;source=yudihastono.com" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Linkedin">Share this on Linkedin</a></li><li class="sexy-misterwong"><a href="http://www.mister-wong.com/addurl/?bm_url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;bm_description=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;plugin=sexybookmarks" rel="nofollow" class="external" title="Add this to Mister Wong">Add this to Mister Wong</a></li><li class="sexy-scriptstyle"><a href="http://scriptandstyle.com/submit?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Submit this to Script &amp; Style">Submit this to Script &amp; Style</a></li><li class="sexy-blinklist"><a href="http://www.blinklist.com/index.php?Action=Blink/addblink.php&amp;Url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;Title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Blinklist">Share this on Blinklist</a></li><li class="sexy-diigo"><a href="http://www.diigo.com/post?url=http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/&amp;title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;desc=Waktu%20itu%20saya%20pernah%20menonton%20acara%20Mario%20Teguh%20di%20TV.%20Di%20tengah-tengah%20ceramah%20motivasinya%2C%20dia%20sedikit%20bercerita%20tentang%20masa%20lalunya%20sebelum%20dia%20menjadi%20motivator%20ternama.%20Dia%20bercerita%2C%20suatu%20malam%20sepulang%20dari%20kantor%2C%20dia%20bercermin%20dan%20bertanya%20pada%20dirinya%20sendiri%2C%20%22Sudah%20sebegini%20keras%20saya" rel="nofollow" class="external" title="Post this on Diigo">Post this on Diigo</a></li><li class="sexy-twittley"><a href="http://twittley.com/submit/?title=Kok+Saya+Nggak+Kaya-kaya%3F&amp;url=http%3A%2F%2Fyudihastono.com%2Fbagi-rasa%2Fkok-saya-nggak-kaya-kaya%2F&amp;desc=Waktu%20itu%20saya%20pernah%20menonton%20acara%20Mario%20Teguh%20di%20TV.%20Di%20tengah-tengah%20ceramah%20motivasinya%2C%20dia%20sedikit%20bercerita%20tentang%20masa%20lalunya%20sebelum%20dia%20menjadi%20motivator%20ternama.%20Dia%20bercerita%2C%20suatu%20malam%20sepulang%20dari%20kantor%2C%20dia%20bercermin%20dan%20bertanya%20pada%20dirinya%20sendiri%2C%20%22Sudah%20sebegini%20keras%20saya&amp;pcat=Internet&amp;tags=" rel="nofollow" class="external" title="Submit this to Twittley">Submit this to Twittley</a></li><li class="sexy-mail"><a href="mailto:?subject=%22Kok%20Saya%20Nggak%20Kaya-kaya%3F%22&amp;body=I%20thought%20this%20article%20might%20interest%20you.%0A%0A%22Waktu%20itu%20saya%20pernah%20menonton%20acara%20Mario%20Teguh%20di%20TV.%20Di%20tengah-tengah%20ceramah%20motivasinya%2C%20dia%20sedikit%20bercerita%20tentang%20masa%20lalunya%20sebelum%20dia%20menjadi%20motivator%20ternama.%20Dia%20bercerita%2C%20suatu%20malam%20sepulang%20dari%20kantor%2C%20dia%20bercermin%20dan%20bertanya%20pada%20dirinya%20sendiri%2C%20%22Sudah%20sebegini%20keras%20saya%22%0A%0AYou%20can%20read%20the%20full%20article%20here%3A%20http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/" rel="nofollow" class="external" title="Email this to a friend?">Email this to a friend?</a></li><li class="sexy-comfeed"><a href="http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a></li></ul><div style="clear:both;"></div></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudihastono.com/bagi-rasa/kok-saya-nggak-kaya-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
