Nostalgia Electone
Meskipun saat kelas 4 SD saya mulai belajar electone di YMI (Yamaha Musik Indonesia) hingga kelas 3 SMP, saya masih consider diri saya sebagai pemusik yang self-guided, self-paced dan self-taught. Cakupan musik terlalu luas untuk dipelajari seumur hidup. Kalo Chinese people bilang “waktu seumur hidup nggak akan cukup buat belajar bahasa Mandarin,” demikian juga dengan musik.
Sewaktu SMP saya mulai menyukai pemrograman registrasi lagu di electone. Saat itu Yamaha memproduksi electone canggih bernama HS. Karena orangtua melihat kegemaran saya dan saudara-saudara saya di bidang musik suatu hari sepulang sekolah saya mendapati electone HS ini di rumah sebagai surprise dari orangtua saya. Hehe, seneng banget deh waktu itu. Waktu itu saya bersama kakak dan adik saya dibelikan HS-5. Seri HS-5 ini adalah seri yang paling buncit, tapi tetep aja senengnya nggak keruan. Electone HS-5 inilah cikal bakal saya menjadi music programmer sekarang.
Mulai deh petualangan saya kutak-kutik HS-5 ini. Hampir setiap pulang sekolah, tempat tujuan pertama adalah HS-5 ini. Waktu itu ada buku-buku berisi partitur musik yang khusus dibuat untuk dimainkan di HS. Di halaman belakang ada setting registrasi dari mulai suara, rhythm hingga cara bikin sequencer untuk tiap-tiap partitur. Saya dulu seneng sekali bikin registrasi dan sequencer lagu-lagu di buku ini. Saya belajar membaca partitur drum dan perkusi juga dari sini, dan secara tidak sadar saya belajar how to arrange music. Materi ini nggak pernah diajarkan saat kursus. Gara-gara sering nongkrongin registrasi ama sequencer ini, musikalitas saya seperti diboost lebih cepat. Tapi ada sisi buruknya juga. Saya jadi lebih jarang latihan fundamental karena keseringan bikin registrasi ama sequencer ini ;-). Jadi sekarang, I may be good at music programming but I’m not good at playing at all. :)
Selepas kelas 3 SMP, meskipun saya masih terus belajar electone, saya mulai mengenal piano dan keyboard yang saat ini menjadi alat musik favorit saya. Ternyata mempelajari piano dan keyboard ini asyik juga. Tidak mudah, tapi tidak sulit juga karena sebelumnya saya sudah mengenal salah satu instrument keturunan piano yaitu electone. Saya dipaksa belajar keyboard karena waktu itu saya menjadi tim musik di sebuah persekutuan doa di kota Solo. Alat yang tersedia hanyalah sebuah keyboard CASIO. Di sini juga saya terpaksa belajar transposing karena keyboardnya nggak ada fitur transpose-nya. Hehehe. Syukur deh, sekarang transposing saya nggak jelek-jelek amat, meskipun kadang suka telat juga mikirnya.
Waktu itu Yamaha mengeluarkan lagi electone generasi terbaru bernama EL. Karena EL ini mahalnya minta ampun, saya harus puas dengan HS yang ada di rumah. Lagipula HSnya juga masih dalam keadaan baik dan saya tahu kemampuan orangtua saya waktu itu. Saya nggak bisa memaksakan keinginan sendiri. Namun karena saya nggak mau ketinggalan jaman dan begitu terpesona dengan kecanggihan EL ini, hampir setiap hari sepulang sekolah saya ke tempat kursusan untuk mempelajari sendiri EL ini sekaligus praktek membuat sequencer menggunakan EL. Otomatis saya juga mempelajari dan berlatih lagu yang registrasi dan sequencernya sudah saya buat. Asyik banget. Hampir setiap Sabtu, kalo anak-anak lain pulang sekolah terus main ke tempat teman atau pulang ke rumah terus main game (waktu itu SEGA dan Super Nintendo lagi booming), sepulang sekolah saya bermain dengan EL di tempat kursus sampai sore. Saya tidak suka game? Tentu saja saya suka. Saya suka sekali Punch Out dan Megaman tapi nggak tahu kenapa Yamaha EL ini lebih menarik minat saya. Saya beruntung sekali karena pemilik sekolah musiknya baik banget dan udah seperti orangtua sendiri. Jadi saya diperbolehkan memakai alat di sana selama tidak bertabrakan dengan jam kursus murid yang lain. Terimakasih tante Vonny yang baik. You’re the best teacher.
Suatu kali teman saya berkata, kalo cari Yudi di rumah nggak ada, coba aja cari di tempat kursusan, pasti ketemu. Memang tempat kursus saya dulu serasa jadi rumah kedua saya karena saya banyak sekali menghabiskan waktu di sana, membuat program musik dan sequencer. Sepulang sekolah jam 1 siang saya menuju ke sana dan baru pulang ke rumah sekitar jam 5 sore. Kadang-kadang kalo pas lagi ada persiapan Festival Yamaha Electone bisa sampai jam 7 atau 8 malam.
Sewaktu kelas 2 SMA, saya harus berpisah dengan electone HS-5. Waktu itu keyboard sedang naik daun dan electone sepertinya agak kalah pamor. Di tempat kursus jumlah muridnya pun menurun drastis. Orangtua sayapun setelah berunding dengan anak-anaknya, akhirnya memutuskan untuk menjual HS dan menukarnya dengan keyboard. Harga bekas electone HS-5 plus keyboard Roland D20 milik papa yang dipakai untuk pembuatan jingle iklan waktu itu masih bisa untuk membeli sebuah keyboard baru JV-1000. Karena JV-1000 adalah murni keyboard synthesizer, maka untuk keperluan papa membuat jingle iklan dibeli juga satu unit micro composer Roland MC50-mkII. Dari sinilah saya mulai belajar sequencing dan music programming menggunakan keyboard. Beberapa saat kemudian karena promo dari Roland yang mengesankan, orangtua saya membelikan Roland G-800. Hingga tiba waktunya saya kuliah di Jogja, keyboard G-800 ini saya boyong ke Jogja. Selama kuliah, selain cukup aktif bermain band, lagi-lagi saya keranjingan sequencing. Lagu-lagu yang dulu saya pernah coba buat registrasi dan sequencingnya di electone, saya coba buat lagi registrasi dan sequencingnya di G-800 ini. Kaya kurang kerjaan yah. Hehehe, nggak apa-apa yang penting kuliahnya lancar. Keyboard G-800 inilah, yang bersama dengan JV-1000, menjadi Roland XP-80.
Jadi sejak saya kuliah tingkat 3, saya sudah bersama XP-80 ini. Entah itu main band dengan teman-teman kuliah saya, membuat lagu, membuat program musik, keyboard inilah yang selalu menemani saya hingga sekarang. Bahkan sekarang, saat saya menuliskan pengalaman ini, keyboard XP-80 ini berada di samping saya. Ayo…XP, berikan salam kepada para pembaca…:D.
Cerita di atas hanyalah sepenggal kisah dari serentetan perjalanan saya menjadi seorang music programmer. Satu hal yang pasti, di mana saya sekarang berdiri itu adalah hasil dari sebuah proses yang sangat panjang.
Sementara saya bisa share pengalaman yang ini dulu ya. Ini aja aja kayanya udah panjang banget. Kapan-kapan nyambung lagi ya. Terimakasih sudah sudi membaca sepenggal kisah kehidupan saya.
Tags // electone, HS-5, keyboard, kursus, music programming, yamaha
Trackback from your site.

Comments (17)
Thanks atas sharing pengalamannya.
Saya mau minta advice untuk anak saya (pria, 9 thn). Sekarang dia baru belajar electone 2 bulan.
Pertanyaan saya :
1. Di rumah ada keyboard standard ; dia latihan jarang 2 (kalau disuruh). Menurut saya dia tidak menunjukkan antusiasme seperti Bapak. Saya sudah anjurkan untuk belajar gitar/biola/piano saja tapi dia tidak mau. Mungkin dia terpesona oleh suara electone yang bisa bermacam-macam. Kalau saya belikan electone takut tidak terpakai karena dia suam2 kuku saja. Tidak dibelikan, dia tidak latihan di rumah, alasannya tidak ada pedal kaki (beda). Saya ajak belajar di tempat kursus tidak mau (jaim).
2. Apa dia harus tetap belajar electone ? Apa baiknya pindah ke piano (soalnya banyak banget yang suka belajar piano & rata2 lebih pro belajar piano).
3. Kapan saat yang tepat untuk beli electone ? (harganya EL01 mahal lho 17 juta lebih).
Nasihatnya dinanti. Trima kasih banyak.
Ibu Nita yang sedang bingung.
Ibu Nita,
1. Yang penting sebenarnya menumbuhkan minat musiknya dulu. Kalo sudah tumbuh minat musik yang besar, nantinya belajar juga nggak perlu disuruh lagi. Kalo emang dia suka electone, ya bisa mulai dari electone dulu. Mungkin bisa digali lagi kenapa jaim? Coba ditanya lagi dan diberi pengertian supaya tidak perlu jaim.
Sebagai alternatif mungkin bisa ambil kelas privat di tempat kursus. Jadi cuma dia sama gurunya saja di satu ruangan. Masa sama gurunya juga masih jaim? Kalo jaim sama teman2 di sekolah, kenapa mesti jaim? Kan umur 9 tahun juga masih belum terlambat belajar musik? Saya mulai belajar juga mulai kelas 4 SD (kira2 umur 10 tahun). Kalo sampai dia bisa musik bukannya itu akan jadi kebanggan dia juga nantinya? Kalo dikasih pengertian belum bisa ya sebaiknya jangan dipaksa.
Kalo saya dulu sih ada dipaksanya. Tapi memaksa juga nggak asal maksa kan, Bu. Mesti dilihat juga bagaimana di keluarga apakah ada yang suka musik atau tidak. Mungkin papa atau kakeknya suka musik? Karena konon talenta musik ternyata juga ada hubungan dengan faktor genetika juga.
2. Kalo sudah suka belajar electone, bisa mulai dikenalkan piano. Mana yang lebih baik, sebenarnya tergantung dari tujuan anak atau Ibu sendiri, juga tergantung dari kurikulum tempat kursus. Namun kalo saya menyarankan, ambil dua-duanya karena tujuan pembelajaran kedua alat musik ini berbeda. Dengan mengambil dua2nya, kurikulumnya akan saling melengkapi. Namun jika harus memilih salah satu, sebaiknya ambil piano saja. Apalagi untuk jangka panjang. Dari piano juga lebih mudah untuk penyesuaian ke alat musik turunannya yaitu keyboard dan electone. Namun untuk belajar piano ini si anak harus benar2 suka musik dan tekun supaya belajarnya bisa langgeng dan ibu nggak capek2 menyuruh belajar, karena banyak materi lagu klasik yang bagi anak2 mungkin monoton dan membosankan. Tapi kembali lagi ke minat si anak. Kalo tetap suka electone dan nggak siap pindah ke piano ya jangan dipaksa.
3. Saat yang tepat kalo si anak sudah terlihat minat belajarnya. Tapi kalo keberadaan electone ini bersifat wajib untuk menunjang berlatih di rumah, ya coba cari tipe yang paling murah atau yang second. Dulu saya juga gitu. Dibeliin yang murah dulu. Yang perlu diingat, jual electone lebih susah daripada jual piano Bu. Karena electone ini kan barang termasuk barang elektronik dengan teknologi. Setiap beberapa tahun sekali keluar tipe-tipe baru yang lebih canggih. Saya sendiri sudah tidak begitu mengikuti perkembangan electone ini. Terakhir yang saya tahu adalah Yamaha EL-90. Setelah itu keluar tipe Yamaha ELX-1. Soal harga memang sangat mahal. Tapi ketika jual harga bisa banyak turun. Alternatif lain bisa menggunakan keyboard untuk belajar. Nanti di tempat kursus paling anak berlatih menyesuaikan sebentar dengan electone.
Mudah2an tidak bingung lagi ya Bu.
Waduhh…!! berharga banget ni mas ceritanya. Sampe-2 aku jd membayangkan betapa panjangnya kehidupan mas yudi hingga sekarang ini. Pokoknya Bravo deh…….:) Makasih ya mas atas sharingnya. …heheheheh
GBU
Ardi best friend
mas, yudi..anda keliatan nya orang baik..maksud saya..dari tulisan anda..mas Yudi ini keliatan orang yang ga sombong.. say yakin karya anda pasti bagus…
mungkin usia kita juga sama mas.. yang bedain lingkungan kali ya..
beruntung mas Yudi ini punya Ayah yang keliatan nya musisi juga..sehingga minat musik mas.bisa tersalur dengan baik..
ada kemiripan pembelajran di musik….mas Yudi bilang rasanya walaupun pernah kursus…tapi musikalisasi berkembang dan dikembangkan sendiri… saat teman2 lain asik dgn game..atau hal lain…. kita justru anteng dengan ‘ngulik’… kalau saya mas minat untuk mainin program sangat tinggi waktu itu..ya sampai sekarang sih…cuma saat itu..lingkungan saya ga ada yang namanya electone… pernah dulu ngusahain beli sendiri keyboard murahan merknya general…mirip casio… disitu ada programnya…maksud saya..dengan keboard itu saya bisa bikin musik..begitu dipanggung tinggal pencet doang..hehe..
tapi sekrang ini sdh begitu lebih maju teknologinya..saya termasuk ketinggalan mas.. bisa dong saya diajarin klu nya buat program2 mas.. lebih jauh kalau mas Yudi berkenan..kita share di japri..di : neocell2005@yahoo.com.
saya ARI di bandung mas.
trimakasih kalau mas Yudi berkenan respon..
Salam.
@ Ardi: Sama2 Ardi. Kamu juga hebat kok Ardi. ^_^
@ Ari: Maaf sebelumnya ya mas kalo saya lama banget balesnya karena kesibukan. Boleh2 aja mas. Nanti kita saling share aja mas… Saya sendiri juga banyak kurangnya dan masih harus banyak belajar.
Horas mas Yudi…
Kalo sy mau menghubungi mas yudi ke No. brp HPnya, karena sy mau sharing ttg Roland G-800.
Terima kasih
YOYO : 081396514879
Horas mas Yoyo. Kalo share via email aja gimana mas Yoyo? Bisa aku minta alamat emailnya? Aku sudah lama sih ngga menggunakan G-800. Tapi ngga apa2, kita coba ya… Bro bisa juga menuliskan pesan via Contact menu yang di atas itu.. Terimakasih sudah berkunjung ya…
Wuih..trnyata enak jga nih bca comentx..pingin jga nih bsa main muzik electon..sbnrx aq suka ama electon om,tpi gk bsa carax h.h.h
Halo bung Yudi, punya pengalaman bikin style dangdut ? kalo punya tolong diposting juga pengalamannya biar yg nimbrung disini ikutan belajar.
Bu Nita: saya ada yamaha electone 7 kondisi masih bagus banget..soalnya jarang saya pakai. .
Harga dijamin murah.. Kalau berminat, mungkin bs contact ke email saya stlasn@yahoo.com atau ke hp saya 08568131324.. Thx ya.. Gbu.
Halo Mas,
saya mau nanya dong, boleh kan..
bedanya electone tipe EL sama tipe HS apa? dan bagusan yang mana?
kebetulan saya pengen beli yang second tipe lama, kira-kira yang bagus apa ya?
thanks :)
Mungkin bisa dimulai dengan belajar keyboard mas. Kalo suka electone, kemungkinan juga akan suka keyboard. Harga unitnya juga lebih murah…
Saya tidak punya pengalaman bikin style dangdut. Kebanyakan musik-musik yang saya program bergenre pop. Sebenarnya sama saja sih prinsip dasarnya. Mengerti penggunaan midi sequencer pada keyboard atau digital host sequencer seperti cubase atau protools. Sudah lama ingin share pengalaman juga tentang yang ini cuma waktunya belum mengijinkan. Nanti kapan2 ya mas. Thanks sudah berkunjung ke blog saya.
Sukses jualannya ya anggha.
EL itu tipe yang lebih baru. Sound juga jauh lebih bagus. Harga tapi juga lebih mahal. Sekitar tahun 1993, harga HS-8 (seri tertinggi) sekitar 9 atau 10 juta sedangkan harga EL-90 seri tertinggi bisa mencapai 40 juta lebih. Kalau pasaran sekarang saya kurang tahu.
Perbedaan lain lagi, seri EL sudah dilengkapi Music Disk Recorder atau MDR. Jadi pemain bisa merekam permainan dan registrasi suaranya ke dalam alat tersebut. Yang pasti setelah generasi EL, Yamaha masih mengeluarkan seri2 yang lebih baru dan lebih canggih. Seri yang terbaru yang saya dengar adalah Yamaha STAGEA. Untuk info lebih lanjut tentang seri yang lain bisa berkunjung ke http://www.electone.com/museum/. Untuk harga second mungkin lebih akurat kalo langsung bertanya ke dealer Yamaha electone terdekat.
Hallo mas Yudi.. masih ingat saya? Kalau sudah lupa, tinggal ke website saya saja. Hehe…
Saya pun sudah lama tidak update blog, karena kesibukan juga. Bagaimana kabarnya?
Ya, memang STAGEA sangat bagus. Tapi di gereja saya (stasi Maguwo), kami hanya mampu membeli Mini Stagea (bukan Stagea). Kalau dilihat sekilas, tidak begitu berbeda. Saya juga masih penasaran dengan the real Stagea itu mas. Apa mas mengerti perbedaan keduanya (Mini Stagea vs Stagea) terletak di mana?
Ini cuma iseng posting komentar, tapi saya harap panjenengan jangan iseng membalas komentar. Hahaha…
Halo mas Henri… tentu saya masih ingat. Yang pinter bikin aransemen paduan suara itu kan? :)
Wah, ternyata gerejanya mengikuti jaman ya mas. Mini Stagea atau ELB-01 ini sudah lebih dari cukup kalo untuk pemakaian di gereja. Memang versi ini boleh dibilang mini-nya Stagea (ELS-01C). Tentu saja ada fitur-fitur Stagea yang tidak ada dalam Mini Stagea.
Sebenarnya saya bukan orang yang kompeten mas dalam menjawab pertanyaan ini. Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan electone secara intensif. Tapi karena mas Henri tanya, timbul juga rasa penasaran saya dan saya coba cari jawabannya dengan bantuan om G. Ini saya coba jawab sebisanya ya.
Kalo dilihat fisiknya yang pertama terlihat adalah LCDnya. Stagea dilengkapi 6.5 inch LCD dan full colour. LCD Mini Stagea lebih kecil dan tidak full colour. Terus di Stagea ada 2nd expression pedal untuk pitch bending dan mengontrol tempo. Mini Stagea hanya dilengkapi dengan satu expression pedal. Bangku Stagea lebih lebar dan lebih elegan disainnya. Bahan body nya juga sepertinya beda. Terus di bagian lower keyboard ada 16 registration panel. Sedangkan registration panel Mini Stagea ada di dashboard atas sebelah kanan, dan hanya ada 8.
Kalo dari isinya, Stagea dilengkapi dengan 415 preset suara sedangkan Mini Stagea 245 preset suara. Saya rasa untuk kualitas dan “richness”nya sama karena seperti Stagea, preset suara Mini Stagea juga dirancang dengan menggunakan teknologi AWM. Hanya saja, Stagea dilengkapi juga dengan tambahan VA (Virtual Acoustic) Voices. Kalo nggak salah, VA ini juga dipakai oleh keyboard-keyboard high-end keluaran YAMAHA. Ada 94 bank suara VA. Dalam daftar fitur Mini Stagea saya tidak mendapatkan info tentang VA Voices ini. Jadi kok sepertinya Mini Stagea tidak dilengkapi dengan VA Voices ini ya.
Stagea dilengkapi juga dengan FSV keyboard untuk HORIZONTAL touch dan Initial After touch. Pada dasarnya ini menuntut cara kita menekan tuts pada keyboardnya. FSV ini bisa digunakan untuk mengubah pitch dari tuts yang kita tekan dengan menggerakkan tuts yang kita tekan ke kiri atau ke kanan. Ini sangat berguna untuk memberikan efek vibrato sekaligus mengontrol range vibratonya. Saya ragu apakah Mini Stagea juga dilengkapi dengan fitur ini.
Sebenarnya masih ada beberapa perbedaan lagi tapi yang membuat perbedaan besar antara Stagea dan Mini Stagea adalah Mini Stagea tidak dilengkapi dengan Sequncer. Jadi kita tidak bisa membuat program musik di Mini Stagea.
Mungkin itu mas yang bisa saya share. Maturnuwun sudah mampir.